SEKILAS INFO
: - Minggu, 23-09-2018
  • 1 bulan yang lalu / Informasi disampaikan kepada seluruh calon mahasiswa baru Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU), untuk dapat hadir pada Pra Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru ( PKKMB), yang akan dilaksanakan pada hari Senin 20 Agustus 2018 jam 17.00 WITA (5 sore) tempat kampus UTSU Aquino (lokasi SMA Aquino) jl. St Joseph. Untuk info perlengkapan yg harus dibawa...
  • 2 bulan yang lalu / Informasi penerimaan Mahasiswa Baru TA 2018/2019 silakan menghubungi Telp. 0821-9408-0221
Negara Melindungi Nilai-Nilai Tradisional [Seni]

Ambrosius Loho, M. Fil. (dOSEN utsu/Pegiat Filsafat Seni)

Indonesia adalah negara besar. Sebagai negara yang wilayahnya teramat luas, Indonesia terdiri atas pelbagai macam suku, ras, budaya bahkan agama. Dengan kata lain, multikultur (keberagaman) Indonesia ini diyakini menjadi kekayaan yang tiada bandingnya. Konsekuensi dari multikultur ini, adalah bahwa nilai-nilai tradisi yang antara lain mencakup: Seni, budaya, adat, kebiasaan, dan bahkan sistem kemasyarakatan, juga menjadi sebuah kekayaan yang tiada bandingnya.
Maka dengan kekayaan dalam keberagaman ini, mengisyarakatkan bahwa negara harus turut berperan penting dalam menjaga, melindungi, dan bahkan memberi perhatian yang besar terhadap nilai-nilai tradisional. Tugas negara memang tidak hanya melindungi setiap kekayaan yang dimaksud, tetapi paling tidak, seluruh masyarakat (baca: setiap Individu di Indonesia) merasa ‘diayomi’, dirangkul dan (bisa saja) difasilitasi terutama dalam hal mempertahankan eksistensi nilai-nilai tradisi yang dimaksud. Kendati begitu beragam, Indonesia sebagai negara yang besar, yang terdiri dari berbagai suku, ras, budaya bahkan agama, dengan sendirinya akan memberi perlindungan bagi keberagaman yang dimaksud itu.
Ketika mulai merefleksikan hal ini dengan membuka beberapa rujukan, penulis menemukan sebuah ide menarik yang diangkat oleh seorang Guru Besar Filsafat sekaligus budayawan Franz Magnis Suseno, dalam Etika Politik (1987), dirasakan menjadi salah satu titik tolak yang penting untuk menegaskan peran negara atas setiap nilai-nilai tradisional yang ada. Selain itu, penulis juga dikuatkan oleh sebuah kajian seorang Pakar Tradisi Lisan Universitas Indonesia, Dr. Tetty Pudentia MPSS berjudul: Mengkaji Masa Depan Tradisi. Dari pandangan kedua ahli ini, menegaskan bahwa negara memberi jaminan terhadap pengembangan nilai-nilai tradisional, dan penulis meyakini pula bahwa hal itu mencakup seni yang bersifat tradisional, seperti musik kolintang, yang digadang-gadang akan didaftarkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Minahasa.
Demikian kata Suseno: “Dalam tugas untuk mengusahakan kesejahteraan umum, termasuk juga tugas untuk melindungi dan mendukung nilai-nilai moral (termasuk seni) sebuah (kelompok) masyarakat, serta untuk menciptakan kondisi-kondisi agar nilai-nilai itu dapat berkembang, sesuai dengan identitas masyarakat dalam situasi yang ditandai oleh perubahan sosial, negara tidak pilih kasih, tidak memaksakan tuntutan-tuntutan moral sebagian masyarakat kepada yang lain, melainkan menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung pelestarian kekayaan rohani dan moral (termasuk seni) seluruh masyarakat. Nilai-nilai tradisional perlu dilestarikan demi identitas masyarakat. Tetapi karena masyarakat apalagi di zaman sekarang terlibat dalam proses perubahan, nilai-nilainya pun harus berkembang agar memadai dalam menghadapi tantangan-tantangan baru. Maka dari satu pihak nilai-nilai tradisional jangan ditabukan. Kritik-kritik terhadap nilai-nilai lama dan pembahasan tentang nilai-nilai alternative yang baru jangan sampai dicegah atau dimatikan. (Suseno 1987; 352).
Dari sudut pandang yang identik, Pudentia menegaskan bahwa peran negara nampak melalui adanya UU No 5 tahun 2017 mengenai ‘Pemajuan Kebudayaan’. Dalam UU tersebut dikatakan, bahwa pemajuan kebudayaan, memperlihatkan pentingnya pengelolaan yang dikatakan sebagai proses pemajuan kebudayaan dengan melakukan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan warisan budaya. (Makalah Disampaikan pada Dies Natalis FIB UI, 5 Desember 2017).
Terlepas dari jaminan negara atas perlindungan nilai-nilai tradisional di atas, menarik untuk dikedepankan sebuah fakta bahwa kurun waktu beberapa minggu terakhir, ada sebuah pengalaman menarik yang teralami, untuk tidak bermaksud mengatakan bahwa ini pengalaman yang paling menarik, di mana hal-hal yang tradisional bukan tidak ada faedahnya. Betapa dirasakan bahwa hal-hal yang tradisional terutama dalam pengembangan seni musik Kolintang, yang diidentikan dengan nilai-nilai tradisional, seakan semakin mendapatkan tempat. Sebut saja Sanggar Fantastic Prima Vista Lembean Minahasa Utara, yang digawangi oleh salah satu pelatih dan praktisi musik kolintang di Sulawesi Utara, Stave Tuwaidan, merupakan bukti otentik yang menunjukkan bahwa seni musik tradisional terus mendapatkan tempat dan ‘panggung’, untuk mementaskan musik yang digarap secara modern. Adapun salah satu kegiatan yang memberi perhatian pada seni musik yang kaya akan nilai-nilai tradisional, adalah kegiatan yang bertajuk: Pagelaran Seni & Budaya Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Minahasa Utara, yang diadakan pada Sabtu, 21 April 2018.
Kendati demikian mendapatkan tempat dan secara tersirat didukung oleh pemerintah, apa yang disuguhkan oleh kelompok pegiat/grup seni musik tradisional tersebut, kemudian banyaknya event yang membuka kesempatan untuk mereka tampil, menegaskan bahwa apapun yang dilakukan dalam rangka ikut mempertahankan nilai-nilai tradisional Indonesia (khas Minahasa seperti Kolintang), dijamin oleh negara. Bahkan peran negara dalam menjamin hal yang dimaksud, telah pula didukung secara terperinci dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
Dengan demikian, menjadi terang benderang bahwa nilai-nilai tradisional itu justru menjadi penting dan ‘dilindungi’ oleh negara. Di samping itu, undangan dari kelompok orang (pemerhati dan pegiat seni dan budaya tradisional), menegaskan bahwa: Sebagai orang-orang yang lahir dari rahim kebudayaan, demikian kata Sutrisno dalam Krisis Peradaban 2013, manusia sekaligus lahir dari kearifan lokalnya dengan keragaman kekayaan kearifan mengenai kehidupan. (Sutrisno 2013: 9). Maksudnya, jalan (pengembangan) kebudayaan mempunyai kekuatan hakikinya karena kebudayaan dengan memiliki ‘kemampuan’ untuk merawat, merayakan dan memuliakan kehidupan yang terangkum dalam sebuah sistem nilai. (Ibid. hlm. 96).
Dari paparan ini, hal yang perlu dilakukan secara nyata adalah menjaga warisan untuk masa depan, dengan cara menyelengarakannya lewat berbagai program yang dilakukan oleh semua pihak yang terkait, baik pemerintah maupun non pemerintah bahkan perorangan, khususnya para pewaris tradisi. (Pudentia, ibid.). Dengan demikian, marilah kita terus memberi perhatian, menggiatkan, serta terus mempertahankan nilai-nilai tradisional Indonesia yang lekat erat dengan setiap suku, budaya dan masyarakat yang beragam. Dari kekayaan yang diuraikan ini, kita bisa menjadi pelaku-pelaku kebudayaan yang sesungguhnya, menjadi pelopor dalam pengembangan kebudayaan yang erat dengan nilai-nilai tradisional. Salam budaya.*** (Tribun Manado, 7 Mei 2018)