SEKILAS INFO
: - Minggu, 16-12-2018
  • 3 bulan yang lalu / Informasi disampaikan kepada seluruh calon mahasiswa baru Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU), untuk dapat hadir pada Pra Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru ( PKKMB), yang akan dilaksanakan pada hari Senin 20 Agustus 2018 jam 17.00 WITA (5 sore) tempat kampus UTSU Aquino (lokasi SMA Aquino) jl. St Joseph. Untuk info perlengkapan yg harus dibawa...
  • 5 bulan yang lalu / Informasi penerimaan Mahasiswa Baru TA 2018/2019 silakan menghubungi Telp. 0821-9408-0221
Manusia Harus Diperlakukan Sebagai Manusia!

Oleh : Ambrosius Loho, M. Fil. (Pegiat Filsafat/Dosen UTSU)

Viral di se-antero dunia lewat media sosial aksi teror bom di beberapa gereja di Surabaya. Bak gaung bersambut, serangan teroris itu dalam sekejap menjadi konsumsi seluruh masyarakat, bahkan persebaran video dan foto yang dimaksud semakin susah dibendung. Tak berhenti di situ, bahkan semua orang sibuk mencari informasi tentang apa dan bagaimana proses kejadian pemboman di beberapa Gereja dan Polrestabes Kota Surabaya pada 13-14 Mei 2018.
Tepat beberapa jam setelah kejadian, penulis yang dalam posisi berada di kota tersebut, mencoba merefleksikan sekiranya bagaimana tindakan solutif yang bisa kita sumbangkan untuk menyadarkan dan memberi pemahaman atas kejadian ini. Karena walau bagaimanapun, peristiwa ini pasti menimbulkan keresahan kita, menimbulkan juga ketakutan dan bahkan kekuatiran yang mendalam dari setiap insan di Indonesia.
Dari fakta-fakta keprihatinan di atas, tepat beberapa tahun lalu penulis pernah mengangkat isu ini dalam sebuah tulisan, dengan tema ‘Perdamaian’. Hal itu pula yang menurut hemat penulis harus digaungkan lagi, karena tugas kita adalah memahami dengan benar apa dan bagaimana proses yang terjadi baru kemudian mengambil sikap.
Sebagaimana penulis uraikan di atas, bahwa sesungguhnya serangan teror bom ini, adalah serangan kepada eksistensi manusia. Teror bom seperti demikian, adalah serangan bagi kemanusiaan manusia. Dan tentu saja, hal itu menyakitkan, karena dengan serangan terhadap kemanusiaan ini, seolah menunjukkan bahwa kehidupan seperti tidak ada arti.
Lalu bagaimana langkah kita? Jika kita boleh jujur, kita harus punya kesadaran bahwa sebagai manusia, kita sesungguhnya adalah agen perdamaian. Manusia harus menjadi agen utama dalam rangka menciptakan perdamaian, agar tumbuh juga rasa kemanusiaan. Jika ada pandangan seperti ini, kita turut menegaskan bahwa kemanusiaan begitu berharga, bernilai dan berada ditempat yang semestinya. Meminjam istilah Filsuf Irlandia, Alasdair MacIntyre, kita harus menjadi manusia yang berkeutamaan lewat kegiatan bermakna. Dengan kegiatan bermakna, keutamaan seseorang akan tumbuh, demikian juga kegiatan bermakna tersebut, menunjang tumbuhnya keutamaan dalam diri manusia untuk menjadi manusia utuh. (MacIntyre 1981).
Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa, terdapat dua argumen penting untuk menjelaskan bagaimana upaya mendapatkan perdamaian. Pertama, damai merupakan buah dari konflik, pertempuran atau perang. Seorang Filsuf Yunani Kuno, Herakleitos mengatakan bahwa tatanan masyarakat yang damai merupakan hasil keselarasan antara pihak-pihak yang saling bertikai. Dalam konteks ini, perdamaian diperoleh melalui usaha menyingkirkan elemen-eleman yang bertentangan dalam kehidupan bersama. Kedua, perdamaian merupakan kodrat manusia. St. Agustinus pernah mengatakan bahwa perdamaian adalah apa yang dirindukan oleh setiap orang bahkan oleh setiap makhluk. Dari argumen ini, hal terpenting yang menjadi pokok adalah bagaimana perdamaian itu, bersumber dari manusia itu sendiri. (Pandor 2014: 149).
Hemat penulis, sebuah tragedi yang pada akhirnya menyebabkan banyak manusia menjadi korban, akan membawa pada sikap permusuhan satu sama lain. Pada saat yang sama, perdamaian dan hidup damai dalam kondisi yang multikultur, sulit terwujud. Maka dari itu, berhadapan dengan kondisi real saat ini misalnya, apa yang paling bisa diusahakan agar bisa tercipta kehidupan yang baik dalam kelompok, tidak lain adalah menumbuhkan rasa kemanusian yang diperoleh dari semagat menjadi agen perdamaian. Jika kita tidak merasakan damai, itu karena kita lupa bahwa kita bersaudara satu sama lain (Theresa dari Calcuta).
Maka berkaitan dengan hal ini, hemat penulis, menjadi ‘manusia perdamaian’ sangat diharapkan karena manusia perdamaian biasanya memiliki beberapa keunggulan. Pertama, mampu mengambil jarak. Ia tidak terhanyut oleh situasi yang negatif atau provokasi yang sengaja memancing emosi jiwa yang meluap-luap atas suatu peristiwa, tetapi proaktif mengupayakan situasi yang damai di antara pribadi atau kelompok yang bertikai. Kedua, memiliki kemampuan berempati, yakni kemampuan untuk mengambil posisi orang lain dan berusaha melihat dunia dari sudut pandangnya. Dengan empati, sosok manusia perdamaian mampu merasakan apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan setiap orang, terutama orang-orang yang ada dalam situasi konflik. Ketiga, mampu bersikap terhadap peristiwa yang muncul dalam hidup sehari-hari. Dengan kemampuan untuk berpikir kritis atas berbagai peristiwa yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, ia akan berusaha mencari solusi kreatif demi terwujudnya masyarakat yang damai. Keempat, mampu berkomitmen untuk menjaga dan mewujudkan suasana kehidupan bersama yang kondusif dengan menjalin persahabatan dengan semua orang. Keluwesan relasi manusia perdamaian yang meluas tersebut tentu akan memperlicin terbukanya pintu dialog yang membebaskan. Perdamaian menjadi nyata dalam kehidupan sesama yang diwarnai oleh kerja sama, dialog, solidaritas, saling menghormati, saling menghargai, saling menolong dan hidup bersaudara. (ibid.)
Di sisi lain, kita harus semakin menumbuhkan sebuah sikap humanis-etis. Humanisme etis dibutuhkan untuk melindungi martabat manusia dari penafsiran-penafsiran picik dan sikap-sikap eksklusif (misalnya yang mengatasnamakan agama, dll.). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki prinsip kesadaran akan dunia dan kesadaran diri, maka manusia berdiri tidak hanya di dalam, tetapi juga sekaligus di luar dunia. Manusia adalah person, dan konsep person merupakan kontribusi penting humanisme etis yang dimaksud. Kita membela kemanusiaan bukan karena ide kemanusiaan, melainkan karena ada kenyataan person yang dibawanya. Manusia harus diperlakukan sebagai manusia. (Hardiman 2016: 131-132).*** (Posko Manado 15 Mei 2018)