SEKILAS INFO
: - Minggu, 22-07-2018
  • 3 minggu yang lalu / Informasi penerimaan Mahasiswa Baru TA 2018/2019 silakan menghubungi Telp. 0821-9408-0221
Keugaharian, Fondasi Menjadi Pemimpin

Ambrosius Loho, M. Fil. (Dosen UTSU Manado/Pegiat Filsafat)

Elektabilitas seorang calon pemimpin tidak hanya didukung oleh sikap dan perilakunya ketika memasuki masa kampanye, walaupun itu menentukan juga apakah dia dipilih atau tidak. Namun demikian, elektabilitas itu akan semakin meningkat apabila semua visi dan misi-nya ketika dia berkampanye, dengan jelas dan terukur, bisa dipraktekkannya ketika dia sudah terpilih nanti. Itu ideal dalam sebuah kontestasi politik di mana pun dan di tingkat apapun.

Semua sepakat bahwa pemimpin (yang baik) adalah pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya, dari pelbagai latar belakang. Pemimpin yang baik juga haruslah pemimpin yang berkeadilan, tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan, serta tidak berpihak pada partai atau pendukungnya saja (?).
Sekian banyak idealisme ini tidak bisa diandaikan begitu saja, mengingat situasi terbaru, kontestasi politik sudah melahirkan pemimpin baru (minimal di 171 Propinsi, kabupaten atau kota). Meski demikian, bak gaung bersambut, kontestasi politik, sejatinya belum berakhir. Kontestasi belum benar-benar ada di akhir, karena puncak dari semuanya adalah pemilihan pemimpin bangsa kita, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia di tahun 2019.

Wacana tentang sosok seorang pemimpin yang sarat dengan kebaikan dan kewibawaan, tanpa kita sadari telah digaungkan setahun terakhir, bahkan mungkin saja lebih. Gambaran umum tentang seorang pemimpin menjadi hal yang penting dalam memberi fondasi bagi masyarakat untuk bisa memilih berdasarkan pilihannya dan tentu juga berdasarkan hati nuraninya. Ada yang memahami, bahwa saat ini, masyarakat lebih memilih berdasarkan figur yang bagi mereka cukup kapabel dan bisa dipercaya. Ada pula yang memahami bahwa pemimpin yang akan mereka pilih adalah orang-orang yang dipandang bijaksana dan memperjuangkan amanah rakyat. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa pemimpin yang mereka pilih adalah pemimpin yang memiliki pengalaman bertahun-tahun di dunia politik. Apapun itu, dasar dari semuanya tidak lain adalah etika dan moral dari seorang pemimpin itu sendirilah yang menjadi kuncinya. Apa dan bagaimana hal itu dimaksudkan, itu akan penulis uraikan berikut ini.

Beberapa waktu lalu telah pula dilakukan penelitian yang cukup terbatas oleh satu lembaga mandiri dengan tema: “Ekspektasi Masyarakat terhadap Pemimpin Masa Depan”. Penelitian yang sederhana ini menemukan beberapa poin penting tentang sosok pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat. Adapun poin-poin penting itu dapat disebutkan sebagai berikut: Pertama, kompetensi. Harapan masyarakat terhadap pemimpin masa depan adalah sosok yang memiliki kompetensi dalam berbagai macam hal. Kompetensi menjadi penting, karena harapan tentang majunya suatu masyarakat, juga ditentukan oleh kompetensi seorang pemimpin yang dimaksud.

Kedua, sikap adil. Seorang pemimpin harus memiliki semangat dan sikap adil. Keadilan menjadi penting karena setiap pemimpin, pada akhirnya harus bersikap adil ketika dia memimpin. Sikap adil menjadi penting juga karena keadilan pada dasarnya tidak pernah bisa dipraktekkan jika hanya ada satu orang dalam suatu masyarakat. Keadilan akan nampak penting karena ada lebih dari satu orang dalam suatu masyarakat.
Ketiga, keberanian, sikap berani bagi seorang pemimpin juga tidak kalah pentingnya. Keberanian adalah adalah ciri seorang pemimpin, yang menurut adalah hal yang ditempatkan di tempat pertama. Keberanian yang dimaksudkan adalah keberanian yang bukan dalam artian nekad atau ngawur. Keberanian adalha kebranian yang suka belajar, gampang menangkap, memiliki ingatan yang bagus, cerdik serta penuh usaha keras. Ciri-ciri keberanian dalam arti ini adalah keberanian yang bukan takabur dan menghalalkan segala cara. (Bdk. Setyo Wibowo 2017: 230).
Harapan masyarakat terhadap sosok seorang pemimpin yang dicirikan oleh poin sebagaimana disebutkan di atas, cukup memadai untuk dijadikan landasan sikap seorang calon pemimpin, yang mampu membawa kepada kemajuan dan perubahan masyarakat. Meski demikian, cukup etis pula apabila kita memberi lagi satu poin yang semakin memperkuat sosok pribadi seorang pemimpin. Poin yang dimaksudkan adalah keugaharian.
Keugaharian adalah sebuah keutamaan yang terutama tampak dalam kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya, mengontrol dirinya dan juga karena dia mengetahui batas. Ia bertindak demikian karena ia tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan kata lain, hal itu menunjuk pada hikmat praktis yang membimbing orang dalam pilihan-pilihan bertindak. (Setyo Wibowo 2015: 14).

Seorang yang ugahari adalah sosok pribadi yang santun, tidak ugal-ugalan tetapi bukan pengecut, tahu malu dan berpenampilan sederhana. Disamping itu, dia juga merupakan sosok yang tidak pernah bermewah-mewahan. Dalam politik, orang ugahari adalah seorang pemimpin yang bisa menjadi moderator, yang bukan hanya sekedar pendengar tetapi menjadi penengah dalam diskusi (baca kehidupan bersama), menjadi orang yang bisa mengantarai sebuah pembicaraan. Maka menjadi moderator dia juga harus mampu dan bisa memobilisir, menggerakkan sebuah kelompok masyarakat yang dia pimpin. (Ibid., hlm. 15).

Akhirnya, setiap individu memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Setiap orang juga memiliki hak untuk mengajukan diri jadi pemimpin. Apapun resiko jadi pemimpin tentu kita harus siap. Meski demikian, kesiapan mental dan spirit seorang calon pemimpin, juga sangat dibutuhkan. Mengingat bahwa menjadi pemimpin adalah sosok yang penting dalam sebuah kelompok, maka dengan memberi fondasi yang kuat dalam dirinya adalah juga penting. Jadi, akhirnya seorang pemimpin harus memberi diri untuk menjadi seorang yang mampu memberdayakan diri dengan fondasi kuat, untuk kemudian bisa menjadi pemimpin untuk semua orang. ***