SEKILAS INFO
: - Minggu, 16-12-2018
  • 3 bulan yang lalu / Informasi disampaikan kepada seluruh calon mahasiswa baru Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU), untuk dapat hadir pada Pra Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru ( PKKMB), yang akan dilaksanakan pada hari Senin 20 Agustus 2018 jam 17.00 WITA (5 sore) tempat kampus UTSU Aquino (lokasi SMA Aquino) jl. St Joseph. Untuk info perlengkapan yg harus dibawa...
  • 5 bulan yang lalu / Informasi penerimaan Mahasiswa Baru TA 2018/2019 silakan menghubungi Telp. 0821-9408-0221
Kebudayaan Sebagai Pesan

Ambrosius Loho, M. Fil. (Dosen UTSU/Pegiat Filsafat)

Dalam salah satu pertemuan kuliah Filsafat Kebudayaan di tahun 2016, penulis terkesan dengan tema ‘Kebudayaan sebagai Pesan’. Hal yang mau dimengerti dan diuraikan dalam kuliah itu adalah sebuah pertanyaan sentral yakni: Bagaimana ‘membaca’ kebudayaan sebagai pesan/massage? Apakah mungkin kebudayaan bisa dijadikan pesan bagi peradaban manusia? Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut adalah statement berikut ini: Kebudayaan [seyogyanya] adalah pesan/message yang diproduksi, disebarkan, diterima dan dimodifikasi (disesuaikan) dengan berbagai kepentingan. Pendek kata, jelaslah bahwa kebudayaan menjadi pesan bagi orang secara keseluruhan. Kendati ada jawaban singkat seperti itu, namun toh, kita tidak dengan mudah memahaminya.
Maka dalam kerangka memahami dengan seksama dan jelas, penulis meyakini bahwa pintu masuk, yang juga berfungsi sebagai dasar untuk memahami hal tersebut adalah, apa itu kebudayaan? van Peursen dalam kajiannya di dalam Strategi Kebudayaan (1976), menguraikan bahwa kebudayaan adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan merupakan manifestasi kehidupan manusia. Manusia selalu mengubah alam melalui kegiatan hidupnya (van Peursen 1976: 11). Adapun ‘kegiatan’ yang dimaksudkan oleh van Peursen menunjuk pada “segala perbuatan manusia antara lain: Cara manusia menghayati kelahiran, kematian, upacara-upacara untuk menyambut peristiwa itu, seksualitas, cara-cara mengolah makanan, sopan santun dll. (Rahyono 2015: 46).
Jadi, dengan ini, kebudayaan secara sederhana dapat dimengerti sebagai sebuah cara hidup seseorang yang merupakan bagian dari perbuatan dalam kehidupannya. Dalam arti tertentu, setiap tindakan/perbuatan manusia, merupakan wujud dari kebudayaan itu. Di sisi lain, harus dimengerti dengan benar pula bahwa kebudayaan kebudayaan menjadi penting, mengingat didalamnya manusia (sebagai pelaku kebudayaan) juga bisa membentuk identitasnya. (Sebagaimana penulis telah uraikan dalam tulisan terdahulu: ‘Problematika Budaya dan Seni’, Tajuk Tamu Tribun Manado, Selasa 2 Januari 2018).
Dari uraian singkat di atas, kemudian kita akan melihat secara sepintas apa itu pesan. Pesan adalah perintah, nasehat, permintaan, amanat yang disampaikan lewat orang lain. Pesan adalah seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator. Pesan yakni apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal atau non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Pesan mempunyai tiga komponen yakni: makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat mempresentasikan obyek (benda), gagasan, dan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah, dan sebagainya). Pesan juga dapat dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatap muka, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian, film, dan sebagainya. (uraian ini penulis ringkas dari berbagai sumber).
Maka sekarang, tidaklah salah apabila kita menyimpulkan secara sederhana, bahwa kebudayaan diyakini merupakan pesan yang diproduksi, disebarkan, dimodifikasi [dan yang akhirnya] diterima oleh masyarakat. Kebudayaan memang menjadi pesan dari nenek moyang pendahulu yang mentradisikan apa yang mereka lakukan zaman dahulu. Maka dari itu di zaman modern sekarang manusia diperhadapkan pada tantangan untuk, entah tetap mempertahankan tradisinya atau melupakan tradisinya, atau pula menerima tradisi yang sudah berkembang, kemudian dikolaborasikan dengan tradisi yang berasal dari nenek moyangnya.
Berkaitan dengan pertautan tradisi jaman dulu [baca tradisi nenek moyang yang dipandang jadul] dengan jaman sekarang tentang kebudayaan itu, secara tersirat kita berada pada situasi peralihan kebudayaan, terutama disebabkan oleh karena adanya teknologi baru. Dan dengan teknologi yang baru ini pula, sangat mungkin manusia berada dalam situasi cemas dan tegang, yang juga didukung oleh tuntutan untuk harus menyesuaikan diri dengan dunia yang terus menerus berkembang.
Sebut saja fakta saat ini, yang mana manusia mengalami kehadiran di mana-mana secara terhubung oleh media elektronik (on-line), entah lewat TV, radio, telepon, internet, dsb. (bdk. saat ini setiap orang boleh terhubung satu dengan yang lain bahkan dalam keadaan sekejap sekalipun). Maka dari sana, dapat kita mengerti bahwa manusia yang hidup dalam dua dunia ini dapat mengalami kecemasan yang sangat besar (?). Dalam peralihan budaya, tepatnya dalam dunia teknologi elektronik, ruang mengalir dan waktu tak bersekat. Media elektronik, khususnya televisi digital dan komputer, atau multimedia, membangun perasaan seperti berada dalam kampung global namun bukan kampung halaman. Hal tersebut dimungkinkan karena teknologi elektronik memiliki semacam ‘kekuatan magis’ yaitu ‘sebuah tempat bagi segala sesuatu dan segala sesuatu berada dalam tempatnya’.
Bagaimana melihat situasi perkembangan kebudayaan yang bertautan antara jaman dulu (jadul) dan jaman now? Mungkinkah kebudayaan berfungsi sebagai pesan bagi kita? Pendek kata, kebudayaan tetaplah menjadi pesan, karena substansi dari kebudayaan itu, menjadi fokus penting kita. Kebudayaan sebagaimana telah diuraikan oleh van Peursen, adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan merupakan manifestasi kehidupan manusia. Manusia selalu mengubah alam melalui kegiatan hidupnya. Apapun model perkembangan kebudayaan hingga di jaman now pun, kebudayaan merupakan manifestasi kehidupan manusia. Manusia-lah juga yang merupakan pelaku kebudayaan itu, maka atas cara itu pula, kebudayaan menjadi pesan yang bisa memberi kerangka berpikir untuk bertindak sebagaimana yang seharusnya.
Demikian pula, pesan yang terdiri dari tiga komponen yakni: Makna, simbol (yang digunakan untuk menyampaikan makna), dan bentuk pesan, turut memperkuat bahwa khazanah ini, terlekat erat dalam kebudayaan itu. Kebudayaan sarat oleh makna, kuat lekat dengan simbol-simbol tertentu, dan merupakan pengejawantahan dari bentuk sebuah kebudayaan yang hidup di suatu tempat. Kebudayaan adalah pesan yang memproduksi dan menyebarkan perkembangan dunia dari segala sudut pandang. Kebudayaan adalah ‘produk perkembangan kemajuan teknologi’.***  (Tribun Manado, 21 Juni 2018)